Kamis, 27 November 2014

Menikmati Resep-resep Baheula Abdi Dalem yang Kini Langka



Resep-resep baheula ala Abdi Dalem yang dihidangkan Kedai Rakjat Djelata memang sudah jarang ditemukan.


Menikmati Resep-resep Baheula Abdi Dalem yang Kini Langka


Beberapa resep-resep baheula ala Abdi Dalem sudah semakin menghilang dan punah.

Menurut penuturan Mia Adiyati, 35 tahun, pemilik Kedai Rakjat Djelata, kedainya menyediakan beberapa menu tradisional serta resep-resep baheula ala abdi dalem yang saat ini sudah langka.
Di masa silam, konon resep-resep tersebut menjadi menu sehari-hari raja dan para abdi dalem di Keraton Yogyakarta.
Contohnya, manuk londho, yang menjadi makanan pembuka bagi raja-raja Jawa dulu. Penganan ini sejatinya adalah puding kukus gabungan dari tape singkong, telur, santan, dan susu. Supaya rasanya lebih gurih, biasanya ditambahkan keju londo (keju Belanda) yang dimasak dalam periuk berbahan tanah liat. Manuk londho, konon biasa dihidangkan dengan mentho kasunan yang dianggap sebagai nenek moyangnya lemper.
Ada juga cumi ireng mbah blirik dan kresa nyambleng. Kalau yang ini, makanan khas rakyat jelata tempo dulu. Cumi ireng mbah blirik sangat unik, karena dimasak lengkap dengan tintanya. Cara memasak seperti ini mirip dengan beberapa menu masakan cumi di pesisir utara Pulau Jawa.
Rupanya, resep ini ada sejarahnya. Konon, Mbah Blirik buru-buru saat akan memasak sehingga cumi-cumi yang dicucinya kurang bersih. Sang Suami yang sempat mengetahui hal itu awalnya ogah-ogahan mencicipi. Tapi belakangan dia malah suka dan menikmatinya. Kuahnya justru semakin gurih, sedap, dan rasanya cukup nikmat – karena sentuhan tinta si cumi-cumi tadi.
Ada juga kresa nyamleng yang awalnya adalah makanan rakyat jelata tapi lama-kelamaan menjadi makanan favorit keluarga ningrat di keraton. Dari cerita Mia, menu ini sangat sederhana: ikan asin yang dilabur rempah-rempah, ditambah cabai dan kuah santan. Kresa nyamleng sendiri berarti “rasa kesukaan yang mantap”.
Resep-resep baheula ala abdi dalem yang dihidangkan Kedai Rakjat Djelata memang sudah jarang ditemukan. Apalagi belakangan kepedulian generasi muda terhadap kekayaan kuliner asli Nusantara itu semakin menis. “Ironis jika justru orang-orang asing yang mengenal menu-menu tersebut, tapi kita tidak,” ujar Mia sembari menunjukkan beberapa nama penulis luar yang menulis tentang resep-resep Nusantara.
Lebih jauh lagi, Mia ingin menjadikan Kedai Rakjat Djelata sebagai museum kuliner. Sejak awal, Mia menyebut kedai ini perwujudan dari kegelisahannya melihat orang-orang di sekelilingnya tidak lagi mengenal menu-menu tradisional khas Keraton. Jika pun ada, hanya kalangan tertentu saja. Oleh sebab itu, dimulai dengan kedai ini, Mia berharap suatu saat bisa membuat museum kuliner yang dicita-citakannya.

(Moh. Habib Asyhad/intisari-online.com)


http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/menikmati-resep-resep-baheula-abdi-dalem-yang-kini-langka

Yogyakarta Dinobatkan Sebagai Kota Batik Dunia



Batik sebagai karya tradisional Indonesia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Yogyakarta. Inilah kota yang baru dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia.

Yogyakarta Dinobatkan Sebagai Kota Batik Dunia


Sejumlah wisatawan asing berbelanja di Pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta. Pasar tradisional batik yang banyak dikenal wisatawan domestik dan mancanegara ini memberikan suasana tradisional tapi tetap nyaman dengan harga murah. (Rommy Pujianto/Fotokita.net)


Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) menetapkan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia pada peringatan 50 tahun organisasi tersebut di Dongyang, Provinsi Zhejiang, Tiongkok pada 18-23 Oktober 2014.
Penghargaan diserahkan Presiden WCC Wang Shan kepada Putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Pembayun. Adapun Gubernur DIY diwakili oleh Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY Didik Purwadi menghadiri rangkaian acara pengukuhan hingga Kamis (23/10) besok.
Batik sebagai karya tradisional Indonesia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Yogyakarta. Selain memiliki nilai seni tinggi serta sejarah tak ternilai, batik juga telah mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat Kota Gudeg tersebut.
"Karena itu, sangat penting bagi Indonesia, untuk hadir dalam peringatan 50 tahun WCC," kata Wakil Senior Presiden WCC Asia Pasifik Ghada Hijjawi-Qaddumi pada kesempatan terpisah.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Dewan Kerajinan Nasional DIY, Roni Guritno mengatakan Yogyakarta bersaing dengan enam kota di enam negara di Asia Pasifik dalam ajang itu.
Ia mengemukakan pusat kerajinan batik di Indonesia terpusat di Yogyakarta. Yogyakarta lengkap, baik dari sisi sejarah, seni, hingga perajin batik yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan penobatan tersebut Dewan Kerajinan Dunia akan memublikasikan kota batik ke berbagai belahan dunia, sehingga masyarakat dunia akan semakin mengenal Yogyakarta dan sekitarnya dengan batik khasnya.
"Dewan ini memang fokus ke kerajinan khas, makanya batik yang kami maksud adalah batik tulis, dan di sentra batik Giriloyo produknya sudah sangat dikenal masyarakat luas," kata Roni.
Sebelum penetapan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia, tim penilai Dewan Kerajinan Dunia telah meninjau sentra batik tulis di kota tersebut, sehingga tim mellihat langsung seluruh rangkaian proses pembuatan batik tulis, sebagai bahan penilaian.

(Sumber: Tribun Jogja)


http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/yogyakarta-dinobatkan-sebagai-kota-batik-dunia

Logo Baru Jogja Mendapat Kritik di Media Sosial



Desain logo baru Jogja (Yogyakarta) menuai kritikan di media sosial. Mengapa demikian?

Logo Baru Jogja Mendapat Kritik di Media SosialDesain logo Jogja yang dirancang Markplus pimpinan Hermawan Kertajaya. (TWITTER)

Desain logo baru Jogja (Yogyakarta) menuai kritikan di media sosial. Logo yang dirancang MarkpLus Inc pimpinan pakar marketing Hermawan Kertajaya itu malah dipelesetkan menjadi "Togua".
Banyak pengguna internet yang menilai logo tersebut bukannya terbaca "Jogja", melainkan malah "Togua", sesuai model huruf yang digunakan. Hal ini sempat memicu kehebohan di media sosial sehingga masuk trending topic Indonesia di Twitter pada 29-30 Oktober 2014.
Kicauan di media sosial pun beragam dalam menanggapi logo baru. Pengguna media sosial membandingkannya dengan logo yang lama. Ada yang berpendapat bahwa logo yang baru kurang mewakili Yogyakarta.
Logo baru ini adalah rancangan tim Hermawan Kertajaya yang mengaku diminta oleh Sultan secara pribadi untuk menggarap rebranding Yogyakarta, sekitar bulan Februari 2014. Saat itu, mereka bertemu di Jakarta seusai kunjungan Sultan ke Taiwan.
Dari pertemuan selama satu jam tersebut, muncul gagasan baru untuk meninjau kembali brand Yogyakarta yang dirasa tak lagi relevan. Dari situlah, MarkPlus Inc mulai mengerjakan proyek rebranding Yogyakarta.
Sebelumnya, pria yang juga menjabat sebagai President of World Marketing Asociation ini juga telah menggarap logo lama "Jogja, Never Ending Asia".
Dalam desain yang baru, Hermawan mengadaptasi sembilan arah kebijakan Yogyakarta yang terangkum dalam Jogja Renaissance. Kesembilan kebijakan itu meliputi bidang ekonomi, pariwisata, kesehatan, teknologi, pendidikan, serta keterlindungan warga, energi, pangan, tata ruang, dan lingkungan.
"Logo yang baru ini adalah akulturasi modern dengan tradisional," kata Hermawan saat pemaparan logo baru, di kantor Bappeda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), April 2014 lalu.
Desain logo baru ini baru diperkenalkan kepada publik dalam Urun Rembug The New Jogja: Rebranding Initiative, di Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta, Selasa (28/10).
(Ekasanti Anugraheni/Devi Ariyani/Tribun Jogja)


http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/11/logo-baru-jogja-mendapat-kritik-di-media-sosial

Wisata Rp 200 Ribu per Hari



Dana adalah salah satu kendala dalam berwisata. Namun, tahukah Anda, bahwa berwisata ke Sri Lanka dan beberapa kota ini hanya butuh Rp 200 ribu per hari?

Anda ingin berwisata murah meriah menyenangkan? Ada 10 kota yang bisa Anda kunjungi dengan bujet Rp 200 ribu, salah satunya adalah Sri Lanka.

Harga tiket kereta api antar daerah di Sri Lanka hanya berkisar Rp 20 ribu. Satu malam di penginapan hostel hanya menghabiskan biaya Rp 60 ribu dan makanan tradisional seperti sepiring kari dan nasi hanya dibandrol di harga Rp 12 ribu. Apalagi yang kurang? Bahkan untuk mengunjungi taman nasional yang banyak terdapat di Sri Lanka ini, pengunjung hanya perlu mengeluarkan dana Rp 120 ribu saja.

Anda pun bisa mengunjungi benteng batu kuno dan runtuhan istana bernama Sigiriya. Letaknya di pusat Distrik Matale di Sri Lanka, dikelilingi oleh sisa-sisa kebun, waduk, dan struktur lainnya. Sigiriya cukup populer menjadi destinasi wisata bagi turis, dan saat ini terkenal juga dengan lukisan-lukisan kunonya yang berkenaan dengan Goa Ajanta, India.
Sigiriya dibangun kala masa kerajaan Raja Kassapa pertama (477-495 BC), dan merupakan salah satu Situs Keajaiban Dunia dari Sri Lanka. Sigiriya kemungkinan telah dihuni selama masa prasejarah. Benteng ini dimanfaatkan sebagai biara dari abad ke-5 SM, dengan goa-goa yang telah dipersiapkan dan didonasikan kepada Buddha Sangha.

Selain Sri Lanka dan Sigiriya-nya, Anda pun bisa berwisata murah ke Polandia. Di sini Anda bisa mengunjungi kota di utara Polandia, di Sungai Vistula bernama Toru. Kota ini adalah tempat kelahiran Nicolas Copernicus. Pemukiman pertama kota ini, ditaksir oleh para arkeolog, jatuh di tanggal 1100 SM. Dari abad ke-7 hingga ke-13, kota ini adalah pemukiman tua. Ksatria Teutonic membangun sebuah benteng di sekitar pemukiman Polandia pada tahun 1230-1231. Pada 1263 biarawan Fansiskan menetap di kota tersebut, diikuti oleh Dominikan pada 1239. Tahun 1280, kota ini bergabung dengan pedagang Liga Hanseatic dan berubah menjadi pusat perdagangan terpenting di abad pertengahan.

Wisata Rp 200 ribu per hari lainnya adalah Yunani. Negara dengan gaya perumahan khasnya yang beratap biru-putih dan pantai mempesona ini ternyata tak semahal yang dibayangkan. Metéora adalah salah satu objek wisata menarik. Tempat ini adalah salah satu biara paling luas dan paling penting di biara Orthodox Timur di Yunani, disusul dengan Gunung Athos. Keenam biara dibangun di atas pilar batu alami di pusat Yunani. Akses menuju lokasi sebenarnya relatif sulit, dibutuhkan tangga dan jaring penjaga untuk membantu pengunjung. Dan tentunya Anda butuh keberanian ekstra untuk melakukannya.

Selain tiga negara tersebut, Anda juga bisa berkunjung ke Kamboja, Nikaragua, Mesir, Albania, Vietnam, Bolivia, dan Laos dengan bujet Rp 200 ribu per hari.
(Monika Dhita Adiati, sumber: berbagai sumber)

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/09/wisata-rp-200-ribu-per-hari